Seni budaya garut | Kesenian badeng

Seni budaya garut | Kesenian badeng. Kesenian Badeng juga terdapat di kampung Sukabatu desa Sanding Kec. Malangbong Kab. Garut utara, menurut keterangan dari salah seorang tokoh di daerah tersebut di perkirakan sudah ada sejak abad ke 17.

Istilah Badeng sendiri berasal dari kata Pahadreng yang berarti musyawarah, akan tetapi ada juga yang mengatakan berasal dari bahasa Arab yaitu badiun yang berarti aneh. Pencipta dan pembuat waditra Badeng ini adalah Embah Santing, Embah Acok, Embah Arpaen dan Embah Nursaen.
Setiap kali akan mengadakan perge­laran seni badeng, maka penduduk setem­pat terlebih dahulu berjiarah ke makam Embah Acok (kepala desa Sanding) sebagai tanda penghtormatan atas jasanya dalam menciptakan seni Badeng tersebut.

Pada abad 18 seni Badeng di lanjut­kan oleh Madnuki, Djaja, Suminta dan Madja.
Pada abad 19 di lanjutkan oleh Sarkowi dan Naedji. Sedangkan dari tahun 1950 -1970 di lanjutkan oleh Kohri, Saman dan Suherman.

Bentuk pertunjukan dari seni badeng ini di dukung oleh 7 orang pemain yang mempunyai fungsi sebagai berikut : 2 orang penabuh Dog-dog lojor, 1 orang pemegang Angklung Roel, 1 orang pemegang Angklung Kecer, 1 orang pemegang Angklung Indung, 1 orang pemegang Angklung Kencrung, 1 orang juru Kawih. Pemain Dog-dog sambil menabuh kadang-kadang di barengi dengan menari.

Demikian ringkas ceritera mengenai Badeng yang terdapat di kampong Tanjungmekar Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya, menurut penuturan bapak Sukandi, Penilik Kebudayaan Kandep Dikbud Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut.
Poskan Komentar

Entri Populer